You are currently viewing Mitos atau Fakta, Usai Melahirkan Caesar Moms Akan Kesulitan Menyusui ?

Mitos atau Fakta, Usai Melahirkan Caesar Moms Akan Kesulitan Menyusui ?

Saat ini, operasi caesar menjadi salah satu metode persalinan yang lumrah dilakukan, yang pelaksanaan harus memenuhi berbagai indikasi medis. Operasi caesar pun diketahui memiliki risikonya tersendiri. Bahkan, katanya operasi ini bisa memengaruhi produksi ASI. Benarkah ada fakta medis di baliknya?

Metode persalinan secara caesar biasanya dilakukan berdasarkan indikasi medis, baik dari sisi ibu maupun janin dalam kandungan. Indikasi operasi caesar dari sisi ibu misalnya kondisi panggul yang sempit, hipertensi dalam kehamilan, usia ibu di atas 40 tahun, kontraksi rahim tidak adekuat, ataupun ketuban pecah dini.

Sedangkan dari sisi bayi yang dikandung, operasi caesar dapat dilakukan pada kondisi seperti letak janin sungsang, letak janin melintang, denyut jantung janin abnormal, atau pun perkiraan berat bayi 4000 gram. Selain itu, tidak sedikit pula wanita hamil yang memiliki kecenderungan untuk melahirkan lewat metode operasi caesar, dibandingkan metode persalinan normal atau melalui vagina.

Faktanya, operasi caesar terbukti dapat mempengaruhi produksi ASI pasca persalinan. Sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Calgary, Kanada, menemukan bahwa wanita yang melahirkan melalui operasi caesar lebih banyak mengalami kesulitan dalam memberikan ASI dibandingkan wanita yang melahirkan melalui metode persalinan normal. Adapun beberapa hal dari operasi caesar yang dipercaya dapat memengaruhi produksi ASI, yaitu:

  • Kondisi pasca kehamilan

Menyusui dalam waktu 1 jam pertama pascapersalinan dan kontak antara kulit ibu dengan kulit bayi sesaat setelah persalinan, diketahui dapat memperlancar proses menyusui. Dengan menyusui, produksi ASI juga dapat dirangsang. Namun, keadaan ibu pascaoperasi caesar dapat menimbulkan keterbatasan bagi pergerakan atau posisi tubuh ibu, sehingga bukan tidak mungkin menimbulkan keterbatasan untuk dapat segera menyusui. Akibatnya, produksi ASI berkurang.

  • Efek samping dari obat bius

Sebelum operasi caesar dimulai, pembiusan dilakukan terlebih dahulu. Umumnya, tindakan bius atau anestesi yang dipilih adalah spinal anestesi, yang mana penyuntikan dilakukan di area saraf tulang belakang. Obat bius yang paling sering digunakan adalah bupivacaine.

Pada sebuah penelitian, obat bius bupivacaine ditemukan dapat memengaruhi perilaku bayi, seperti kurangnya kepekaan dan kemampuan melihat bayi. Selain itu, obat bius ini sering dikombinasikan dengan obat fentanyl untuk keperluan pembiusan.

Pada penelitian lain, terbukti bahwa fentanyl dapat mengganggu perilaku makan bayi, termasuk dalam menyusui. Meskipun begitu, masih dibutuhkan banyak penelitian lain untuk mengetahui lebih lanjut efek samping jenis-jenis obat yang digunakan dalam pembiusan operasi caesar.

  • Perubahan hormon

Perubahan kadar hormon oksitosin dan prolaktin dapat berbeda pada wanita yang melahirkan melalui operasi caesar dengan yang melahirkan secara normal. Kadar hormon oksitosin ditemukan lebih tinggi pada wanita yang hamil secara normal dibanding yang melalui operasi caesar. Padahal, hormon oksitosin berperan dalam pengeluaran ASI. Selain itu, kadar hormon prolaktin hanya naik sedikit pada wanita yang melahirkan melalui operasi caesar.

Pada dasarnya, prosedur operasi apa pun memiliki risikonya tersendiri. Termasuk risiko pada operasi caesar, memang benar bahwa operasi ini bisa memengaruhi produksi ASI. Oleh karena itu, diskusikanlah dengan dokter Anda mengenai metode persalinan yang sesuai dengan kondisi kehamilan Anda, demi kesehatan Anda dan janin yang sedang dikandung.

Tinggalkan Balasan